Suara Katak

By : Aku dan Ibu
KWONG, KWUNG, KWONG, KWUNG
Sudah beberapa hari ini musim hujan melanda negeri kita, termasuk di Bekasi tempat tinggalku. Untunglah rumah kami tidak terendam banjir seperti rumah-rumah lainnya di Jakarta.
Malam kedua setelah hujan deras, aku tiba-tiba mendengar suara yang amat nyaring, sebelumnya aku tidak pernah mendengarkan suara seperti itu. Tapi mungkin pernah juga sewaktu musim hujan tahun lalu, barangkali aku saja yang tidak begitu memperhatikannya.
“Kwong, kwung, kwong,kwung” suara itu terdengar bersahutan. Aku dan adikku segera menghentikan aktifitas kami menyusun puzzle. Adikku segera mendekati Ibu, dengan raut wajah ketakutan.
“Bu, suara apa itu”ujarnya sambil memeluk Ibu.
“Tidak apa-apa saying, itu hanya suara kodok yang sedang bernyanyi” jelas Ibu.
“Suara kodok, kok terdengar sangat besar sekali, kodok kan kecil Bu” Tanya ku tak percaya.
“Benar sayang, kodok bisa mengembung lehernya, saat kodok ingin mengeluarkan suaranya, agar suaranya terdengar dengan nyaring. Apalagi di musim hujan seperti sekarang ini” jelas Ibu lagi.
“Mungkin itu bukan kodok yang biasa kita lihat Bu” sela Adik.
“Tidak, itu adalah suara kodok yang biasa kalian lihat”
“Aku gak percaya, masa kodok yang sekecil itu suaranya besar sekali” Adik tetap pada pendiriannya.
Seiring dengan percakapan kami, suara itu terus terdengar saling bersahutan. Aku jadi penasaran, bagaimana kodok kecil bisa mempunyai suara sebesar itu.
“Bu boleh aku lihat kodok itu nggak” pintaku.
“Nanti saja ya sayang, setelah hujannya reda” tolak Ibu.
“Jangan Kak, nanti Kakak di makan loh” adik berusaha menahanku.
“Tidak mungkin Dek, kodok kan tidak memakan manusia “
“Bisa saja, seperti yang di film-film, kodoknya berubah jadi monster, terus memakan semua orang yang didekatnya”
Hati ku agak ciut juga mendengar alasan adik. Benar juga ya, bagaimana jika kodoknya berubah menjadi raksasa yang sangat besar. Hiii pasti sangat menyeramkan sekali. Aduh, Bapak kok belum pulang dari kantor sih, jika Bapak sudah pulang pasti Bapak mau menemaniku untuk melihat kodok itu.
“Ayo sayang sebaiknya kalian tidur ya, sekarang sudah jam delapan lebih lima belas menit.” Ibu mengajak kami kekamar mandi untuk gosok gigi dan cuci muka.
“Bu aku tidur di kamar Ibu saja ya, aku takut, suara kodok itu masih saja terdengar.” rengek adikku yang masih kelas satu itu pada Ibu ketika Ibu hendak meninggalkan kamar kami.
“Kan ada Kak Ami, kenapa Adek harus takut, lagi pula Ibu sudah bilang bahwa itu hanya suara Kodok, jadi Adek tidak perlu takut , ya.” Ibu mencium dahi kami berdua secara bergantian. Kemudian beliau berlalu meninggalkan kamar kami sambil mematikan lampu kamar.
“Kak, kita tidur di kamar Ibu saja yuk” ajak Adik beberapa saat kemudian, karena suara itu masih tetap mengganggu kami sehingga kami tidak bisa memejamkan mata.
“Yuk” aku bangun dari tempat tidur.
“Ami dan Avi belum tidur” tiba-tiba Bapak muncul didepan pintu kamar.
“Bapak sudah pulang !” seru kami berdua gembira.
“Belum Pak, kita tidak bisa tidur, karena suara itu” ucap kami bersamaan.
“Ibu bilang kalian takut suara kodok itu ya” Tanya Bapak dengan senyum tertahan.
“Iya Pak, kita tidur di kamar Bapak saja ya” pinta adik memelas.
“Begini saja, tadi Ami ingin melihat kodok yang sedang bernyanyi itu kan”
“Iya” angguk ku bingung.
“Kalau begitu ayo kita lihat kodoknya, hujannya sudah reda, setelah kalian yakin itu kodok yang biasa kalian lihat, kalian boleh memilih tidur di kamar kalian atau di kamar Ibu dan Bapak”
Kami berdua saling berpandangan. Dengan setengah ragu Avi mengernyitkan alisnya.
“Ayo Dek, dari pada kita masih memikirkan monster, lebih baik kita lihat saja langsung, sekalian kita juga bisa tahu bentuk kodok jika sedang bersuara nyaring.”
Dengan membawa senter, Bapak berjalan di depan kami, menuju ke rumah sebelah yang memang belum di huni oleh pemiliknya. Semakin lama suara itu semakin jelas terdengar. Dengan seksama Bapak mengarahkan senter ke tempat suara kodok yang terdengar sangat nyaring.
“Itu , kodoknya ada beberapa ekor” seru Bapak sambil mengarahkan cahaya senter kepada kumpulan kodok itu.
Benar saja Aku dan Avi melihat sekelompok kodok yang sedang mengembungkan lehernya bergantian seiring dengan suara nyaring yang kami dengar tadi. Wow ! Lucu sekali kelihatannya.
“Bagaimana, sekarang kalian mau tidur di kamar siapa”
“Dikamar kita saja Pak” jawab ku dan Avi dengan senyum malu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

One of Many Ways to Fulfill Your Dreams [Acer x Youthmanual Blog Competition]

Bizzare Thought

kecewa gara-gara game